BIBIRMU MENERBITKAN SEKUNAR MIMPI
BIBIRMU MENERBITKAN SEKUNAR MIMPI
Di antara baris dan tumpukan buku, kutawarkan pertemuan kecil berisi jejak dan sungging senyummu. Akupun percaya akhirnya, jarak itu benar-benar terlipat dalam terik siang hari. Bagai lipatan uang lima ribu dalam saku celana. Dunia kecil saja, ternyata. Dan keinginan dan mimpi menempuhnya beriring mars gelombang di dada dan bersitan cahaya menerobos rimbun belantara. Dan puisi ditulis seperti biasa, meski harus menangis untuk menumpahkannya. Maaf, aku menahanmu. Betapa ingin kucari puisi-puisi itu di wajahmu. Mungkin akan nyata sebait sepi. Atau kutemukan sudut lain yang hilang di tengah serbuan iklan. Matahari memasrahkan pesan cinta pada senja. Dan leherku lengket oleh sejumlah acara dan kuliah dalam ruang dengan jendela terkunci. Dan kulihat butir peluhmu menari. Meluncur menuruni pipi menempuh kecemasan dan rahasia. Dan bibirmu menerbitkan sekunar mimpi yang lain. Mengaraknya berkeliling samudera, sahara, padang esdan sabana; bahkan mall, pasar desa, dan sudut-sudut jalan tanpa papan nama. Meski mungkin hanya berisi catatan perjalanan dan setetes air mata. Secuil kehangatan yang sempat singgah. Akhirnya, kaupun menuliskan dua baris pesan. Dan aku pun kembali dihempas kenyataan. Jarak, mimpi dan kenangan. Dua baris pesan, dan seberkas senyum dan bentangan jalan yang samar berujung nisan. Sungguh, aku tahu harus menempuhnya, untuk sampai pada senyummu.
